Sejarah Perkembangan

Ide untuk mendirikan IESPA pertama kali mengemuka pada November tahun 2012, saat itu salah satu pendiri yaitu Prana Adisapoetra melempar wacana pembentukan sebuah wadah bagi gamers di Indonesia sebagai jembatan antara komunitas dengan pemerintah untuk menyalurkan apresiasi kepada gamers-gamers Indonesia yang sudah banyak menorehkan prestasi bagi Indonesia. Wacana pembentukan tersebut dikemukan pada sebuah forum online komunitas gamers. Gayung bersambut, Bapak Eddy Lim, Bapak Erwin dan Richard Permana bersedia untuk melakukan pertemuan agar ide tersebut bisa terealisasi.

Bapak Eddy Lim merupakan founder Ligagame, yaitu perusahaan yang sukses menyelenggarakan World Cyber Games (WCG) di Indonesia sejak tahun 2000. WCG pada masanya merupakan event yang sangat bergengsi bagi gamers di Indonesia. Sejak itulah, Bapak Eddy Lim rutin membawa kontingen gamers Indonesia berprestasi berlaga di WCG Grand Final di berbagai negara. Berbekal pengalaman tersebut, Bapak Eddy Lim memutuskan untuk bersama-sama membentuk wadah bagi para gamers untuk menyalurkan prestasi.

Richard Permana merupakan player aktif Counter Strike yang sudah menorehkan banyak prestasi nasional dan internasional di tim yang dia didirikan, yaitu Team NXL sejak tahun 2007.

Setelah 4 bulan berproses menyatukan ide dan visi, IESPA berdiri secara resmi pada 1 April 2013, sesuai dengan akta notaris pendirian dan berstatus badan hukum melalui pengesahan Kementerian Hukum & HAM Republik Indonesia. 

IESPA memulai mengembangkan Esports sebagai cabang olahraga resmi melalui platform Olahraga Rekreasi. Hal itu ditandai dengan berhimpunnya IESPA ke Federasi Olahraga Rekreasi Masyarakat Indonesia (FORMI). Pertama kali berhimpun dengan FORMI, IESPA berstatus sebagai anggota percobaan, dengan kepengurusan provinsi saat itu masih berjumlah 6 provinsi.

Menurut UU Nomor 3 Tahun 2005, Pasal 1 Ayat 25, yang berbunyi “Induk Organisasi Olahraga adalah organisasi olahraga yang membina, mengembangkan, dan mengoordinasikan satu cabang/jenis olahraga atau gabungan organisasi cabang olahraga yang merupakan anggota federasi cabang olahraga internasional yang bersangkutan”.

Bahwasanya sebuah organisasi olahraga sah disebut sebagai induk organisasi jika merupakan anggota federasi cabang olahraga internasional yang bersangkutan, hal itulah yang mendorong IESPA, atas bantuan FORMI, untuk mengajukan diri bergabung kepada International Esports Federation (IESF). Pada General Meeting IESF di akhir tahun 2013, di Romania, IESPA secara resmi diterima sebagai anggota tetap (full member) International Esports Federation. Indonesia secara resmi bergabung dengan 46 negara anggota lainnya di IESF.

Tahun 2015, IESPA pertama kali mengirimkan kontingen timnas Esports pada ajang IESF Esports World Championship 2015 di Busan, Korea dan sampai dengan tahun 2019, sudah mengirimkan kontingen timnas Esports sebanyak 4x ke ajang tersebut.

Tahun 2016, pada gelaran event internasional The 6th TAFISA World Sport for All Games di Jakarta, IESPA, dibantu oleh Kemenpora dan JATGOC (Jakarta Tafisa Games Organizing Committee) berupaya melakukan bidding untuk membawa gelaran IESF Esports World Championship sebagai tuan rumah. Pada akhirnya Indonesia berhasil memenangkan bidding dan Esports dibawah binaan IESPA, menjadi cabang olahraga yang paling banyak mendatangkan peserta internasional, yaitu berjumlah 33 negara dengan total 400+ peserta & official.

Masih pada tahun 2016, IESPA juga mengirimkan kontingen timnas pada ajang ASEAN Games for Esports (AGES) di Kuala Lumpur, Malaysia. Ajang ini merupakan pertama kalinya 7 asosiasi Esports negara Asia Tenggara berkumpul sekaligus menjadi cikal bakal masuknya Esports sebagai cabang olahraga medali resmi di SEA Games.

Transisi Esports dari Olahraga Rekreasi menjadi Olahraga Prestasi terjadi pada tahun 2018, saat diumumkannya Esports bakal dipertandingkan pada Asian Games 2018 sebagai Demonstration Event. Pada Februari 2018, IESPA diterima sebagai anggota tetap Komite Olimpiade Indonesia (KOI) melalui Rapat Anggota KOI. Juga pada tahun yang sama, IESPA diterima sebagai anggota tetap Asia Esports Federation (AESF). Pada ajang Esports Demonstration Event Asian Games 2018, IESPA bersama KOI, INASGOC dan AESF secara bahu-membahu bekerjasama menyukseskan kegiatan tersebut. Pada ajang itulah tercatat sejarah bahwa Indonesia berhasil keluar sebagai runner-up dengan perolehan 1 medali emas dan 1 medali perak.

Tahun 2019, Esports akhirnya menjadi cabang olahraga resmi yang memperebutkan medali pada SEA Games Filipina 2019. IESPA berhasil mempersembahkan 2 medali perak yaitu di nomor Mobile Legends dan AOV. AESF sebagai federasi resmi yang diakui oleh Olympic Council of Asia berperan sebagai pengawas dan regulator pada ajang Esports SEA Games 2019. Hanya anggota AESF yang berhak mengirimkan atlet ke ajang Esports SEA Games dan Asian Games di masa mendatang.

Saat ini IESPA terus mengembangkan organisasi dan mempunyai 24 pengurus provinsi di seluruh Indonesia dan akan terus berkembang selanjutnya.